Novel : Ziarah

hpim0099.jpg

Penulis : Iwan Simatupang
Penerbit : Pustaka Antara 1979
Tebal : 128 muka surat

Iwan Simatupang tersohor dengan novel Merahnya Merah. Pak Samad ketika mengulas novel Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El-Syirazi) menyatakan bahawa, kejutan AAC terbit persis kejutan yang pernah dibuat oleh Atheis (Achadiat), Perburuan (Pram) dan Merahnya Merah (Iwan Simatupang). Saya perlu menambah di sini, Tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata) perlu dimasuksenaraikan.

Pengenalan

Nama panjangnya Iwan Martua Dongan Simatupang (1828-1970).

Semasa hayatnya, beliau dikenali sebagai eseis, kritikus, dermawan mahupun sebagai penulis, cerpenis dan novelis. Belajar Antropologi Budaya di Leiden, Falsafah Barat di Universiti Sorbonne, drama di D’chle de L’Eroupe, Amsterdam dan mengikuti Full Course International Institute for Social Studies di Hugue. Pernah menjadi pemandu teksi dan pelayan restoran sewaktu berada di Perancis demi menyara keluarga.

Iwa merupaka seorang sosio-invidualis, tetapi humanis. Ini yang saya petik dari ‘blurb’ di belakang buku, walaupun ada beberapa perkataannya yang saya sendiri musykil akan maksudnya.

H.B Yassin ketika mengulas Merahnya Merah : ‘Mempunyai gaya bahasa yang jernih cemerlang. Penuh ritme, dengan pendekatan falsafah mengenai hidup dan manusia. Karya Iwan ini adalah gambaran manusia intelektual yang terlibat dalam mencari jawapan atas masalah-masalah kemanusiaan, cinta dan bahagia, di dunia maupun di akhirat’.

Ulasan

Ya! Novel ini memang sarat. Dan berat. Tapi kesan yang hebat. Lama masa saya perlukan untuk menyudahkan naskah nipis ini. Setiap jalinan perkataan yang diikat, walapun tidak berpintal dan berkerawang, membuat benak saya berhenti untuk merenung dan berfikir. Ayat-ayat jernihnya memaku perhatian saya untuk tidak berhenti membaca, dan tidak juga berhenti dari menelaah setiap ayat.

Tidak mahu ulas panjang. Saya salinkan di sini beberapa bahagian penting yang menari perhatian saya :

‘Menjelang benamnya matahari, dia berhenti bekerja, membenahkan alat-alatnya, menagih upahnya, pergi tenang sambil bersiul-siul ke kedai arak. Dan menurut berita orang-orang di situ, sedikitpun tingkah-lakunya tak menunjukkan keanehan apa-apa – yang sendiri sebenarnya sudah merupakan keanehan tersendiri ! Sebelum dia memborong pekerjaan mengapur tembok-tembok luar perkuburan itu, orang-orang di kedai sudah biasa dengan tingkah anehnya. Kini dia menjadi perhatian umum, perbincangan seluruh kota. Dengan was-was mereka mengamati tingkahnya yang sudah tidak aneh lagi itu. Seolah-olah ketidak anehan adalah sendiri keanehan!’

‘Demikianlah tiba saatnya, di mana pada satu hari tiap warga kota sekaligus merasa takut, curiga, da bingung kepada sesama warga kota lainnya, dan tak kurangnya kepada diri sendiri! Tak seorang mereka berani berdiri lama-lama di muka cermin. Takut, kalau-kalau yang mereka lihat di cermin itu adalah bukan diri mereka sendiri.’

‘Tak lagi janji dapat diikat di kota itu. Percakapan-percakapan mulai kurang dilakukan. Sebab, kata-kata yang mereka akan jalin dalam kalimat-kalimat, menurut pendapat mereka sudah kehilangan ertinya yang semula’.

Menarik bukan. Ziarah. Agak-agak kalian tentang apa. Tentang ziarah-menziarahi ketika hari raya? Atau umrah dan ziarah? Atau ziarah bermaksud melancong? Tidak! Ziarah di sini ialah tentang ziarah perkuburan. Tentang seorang lelaki berbakat besar yang hilang arah dan punca setelah kematian isterinya. Isteri yang dikahwini secara tidak sengaja, tertimpa ketika cubaan membunuh diri.

Menarik. Silalah baca.

4 bintang.

(kredit gambar : jiwarasa.blogspot.com)

Label: , ,

8 Respons to “Novel : Ziarah”

  1. Sangaji Says:

    25 tahun yang lalu, semasa aku SLTA dulu, nun jauh di ranah NTB sana, aku sangat menggemari novel karya Iwan Simatupang. Sampai-sampai aku terobsesi untuk bisa bertemu dengan beliau (walapun itu sangat Imposible, karena perbedaan zaman). Terutama Merahnya Merah.
    Tapi saat ini yang sangat menyedihkan, yaitu aku sempat bertanya kepada anakku dan teman-temanya, ” Kenal nggak dengan yang namanya Iwan Simatupang ?” Ternyata jawaban mereka, nggak ada yang kenal. Ironis bukan ……? Saat ini aku belum menemukan karya-karya yang setara seperti kepunyaan Iwan Simatupang. Yang menurutku pribadi karya -karya beliau adalah novel paling aneh tapi sekaligus jenius dan sangat membuatku kecanduan. Masih menurut pribadiku, jika beliau itu seorang ilmuwan/penemu, maka aku sejajarkan beliau dengan Einstein, Pytagoras, Archimedes dll.
    Ada nggak ya yang mau menerbitkan kembali karya-karya beliau ? Agar anak-anakku kelak dapat memahami, bahwa dizaman dulupun banyak tokoh yang patut diteladani oleh remaja/kaum muda zaman sekarang.
    wassalam…….

  2. HeLL-dA Says:

    Saya juga terkesima membaca Ziarah karya Iwan Siamtupang. Padahal biasanya saya tidak suka membaca novel.
    Wuih.. Tak mampu lagi untuk berkata-kata.😀
    Speechless.

  3. dyanna Says:

    waw,,,,,,,,,

    perbincangan ini bakal seru deh apalgi saya seorng clon sastrawati kepingin banget baca buku2 sastra.
    tapi aku belum baca satupun karya dari Iwan Simatupang. tapi melihat begitu serunya comment ini berarti saya harus baca. gmna sih karakter kepengarangan dari Iwan simatupang?????????

  4. arul chandrana Says:

    wow, aku lupa entah berapa tahun yang lampau, mungkin sepuluh, aku pertama kali membaca kutipan ziarah dari sebuah buku panduan bahs. indonesia mlik kakakku yang telah tidak lagi digunakan. dan tahukah anda, aku selalu menemukan hal baru setiap kali membaca novel utuhnya meski sudah lebih dari sepuluh kali! luar biasa! luar biasa! hanya sayang, selain ziarah, saya tidak tahu lagi novel iwan yang lain.
    bahkan, gaya iwan sempat merasuk ke dalam cerpen-cerpenku. oya, bersediakah kapankapan kau mengunjyngi blog ku? atau siapa saja yang membaca komen ini. aku tunggu.

  5. Shanty Says:

    Ass,,,,,,,aq juga penasaran dengan novel2 Iwan Simatupang apalagi yang berjudul Kering….aq boleh minta tolong,, sekarang ini aq lagi cari novel iwan yang berjudul kering karya aq lagi menganalisis novel itu n aq jadikan sebagai judul skripsi…….. bagi yang punya novel ini aq mau beli atau copy karna aq dah cari kemana2 tapi gak dpt222.. wsl

  6. Chairani Hasibuan Says:

    bagusss😀

  7. segitigakotak Says:

    Ziarah Simatupang. Tentang filosofi hidup (Kehidupan dan kematian), segala yang ada di dunia bersifat tak pasti, roman yang sangat menarik dengan bahasa sastra yang membuat novel ini menjadi karya yang indah

  8. Yudhi Says:

    Ini adalah novel yang saya pinjam setiap kali ke perpustakaan dan tidak menemukan buku bagus lain untuk dipinjam.

    “Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan sistem filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini-juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang.” (Ziarah: 20)

    “Istri saya dikubur disini. Seorang, yang barusan saja melalui bapak saya ketahui adalah teman saya yang sesungguhnya, kemarin dikubur disini. Saya ingin selalu dekat dengan mereka, ingin dalam keadaan yang secara terus menerus menziarahi mereka. Nanti bapak lihat, kekosongan disini adalah juga kehidupan. Suatu jenis kehidupan tertentu.” (Ziarah : 141)

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: