Ketika Ibrahim merebahkan Ismail…

Ketika Nabi Ibrahim merebahkan Ismail untuk disembelih

Sejak semalam (Hari Raya Aidil Adha) sehingga beberapa hari nanti umat Islam seluruh dunia akan sibuk menyiapkan lembu, kambing dan unta untuk disembelih dalam ibadah kurban. Walaupun riwayat hadis yang yang menyatakan bahawa haiwan kurban itu akan menjadi tunggangan di titian sirat itu tidak sahih, namun ibadah kurban memiliki banyak kelebihan dan keutamaan di sisi Islam. Ia merupakan simbol ubudiyyah (pengabdian) dan ketaatan kepada perintah Allah. (Hadis tersebut berstatus tidak ada asal usulnya. Lihat: Silsilah al-Ahaa-dith ad-Do’ifah Wa al-Maudu’ah, Muhammad Nasiruddin al-Albani)

Beberapa ratus ringgit untuk haiwan korban dalam setahun sekali adalah jauh lebih ringan dan mudah dari ansuran kereta yang dibayar pada setiap bulan. Bahkan “Seperti menghantar pulut ke masjid”, bak pepatah Minang Negeri Sembilan jika dibandingkan dengan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s untuk menyembelih anaknya sendiri Ismail.

Kita pun tidak dapat membayangkan apakah gelodak dan gejolak yang mendebur di dalam hati seorang ayah, ketika meletakkan sebilah pisau tajam di atas tenggorokan anak tunggalnya. Demi meringankan beban yang menimpa di dalam dadanya Nabi Ibrahim a.s menelungkupkan wajah puteranya ke atas tanah agar tidak terlihat wajah anaknya saat bilah pisau tajam itu menerobos leher anaknya. Demikian dituturkan oleh ahli tafsir seperti Ibn Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ad-Dahak dan Qatadah di dalam Tafsir Ibn Kathir.

 

Kisah ini dirakamkan al-Qur’an, berdasarkan firman Allah yang bermaksud,

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur yang mampu) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.

Setelah keduanya berserah bulat-bulat, dan Nabi Ibrahim merebahkan anaknya dengan meletakkan iringan mukanya di atas tompok tanah dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (surah As-Saaffaat, ayat 102-107)

Ibrah atau pengajaran dari manusia terpilih sebagai khalilullah ini bukan hanya dari kisah korban. Bahkan sepanjang perjalanan hidup baginda diuji dengan ujian yang sangat berat. Bemula dari kisah berdepan dengan ayahnya sendiri si tukang membuat berhala sehingga kisah dimasukkan ke dalam api oleh raja Namrud yang kejam. Semua itu Allah sarikan di dalam kitab-Nya untuk dipelajari dan diteladani oleh uamat Nabi Muhamamd sebagai umat akhir zaman.

Firman Allah yang bermaksud, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (surah al-Mumtahanah, ayat 6)

Namun suatu inti pengajaran yang paling besar dan penting dari kisah Nabi Ibrahim menyembelih anaknya dan segugus kisah baginda sepanjang hayat, juga inti seluruh kisah para Nabi dan orang-orang soleh yang lain ialah; pengabdian hanya kepada Allah. Ia dismpulkan dari kata “Kami dengar dan kami taat.”

Ini dirakamkan di dalam al-Qur’an yang maksudnya,

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (Surah al-Baqarah, ayat 131)

Menerima perintah menyembeli Nabi Ismail bukanlah semudah kisah-kisah pembuangan anak yang sering kita dengar pada hari ini. Cahaya mata buah hati pengarang jantung Nabi Ibrahim ini hanya Allah kurniakan setelah sekian lama dinanti dengan penuh sabar. Itupun setelah isteri pertama Nabi Ibrahim dengan redha dan kasih saya menghadiahkan Hajar sebagai isteri kedua Nabi Ibrahim. Seakan-akan pada usia yang demikian hampir mustahil baginda memperoleh cahaya mata. Justeru anak yang lahir itu bukan lagi ibarat menatang minyak yang penuh, sebaliknya itulah tangkai nyawa pepohon jiwa.

Baharu sahaja anaknya dilahirkan, baginda diuji oleh Allah sekali lagi. Baginda diperintah menghantar anak dan isterinya di suatu tempat yang tidak diketahui. Diriwayatkan Nabi Ibrahim membawa isterinya Hajar dan anak Isma’il menuju suatu lembah gersang dan kontang hatta tidak ada rumput pun yang tumbuh. Setelah Nabi Ibrahim menempatkan anak dan isterinya itu kemudian baginda berbalik badan untuk pulang. Nabi Ibrahim bergegas dengan menitiskan air mata dan tidak menoleh ke belakang walaupun isterinya Hajar berkali-kali memanggil baginda. Nabi Ibrahim tidak memperdulikan panggilan dari isterinya dan terus melangkah dengan berat.

Pada waktu itu negeri Makkah masih belum ada penghuninya seorangpun. Kemudian Nabi Ibrahim berdo’a sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah yang bermaksud,

“Wahai Tuhan kami. Sesungguhnya aku telah menempatkan anak keturunanku dilembah yang tidak ada tanamannya pada tempat rumah-Mu (Ka’bah) yang mulia. Wahai Tuhan kami. Semoga mereka tetap mendirikan solat, hendaklah Engkau jadikan hati manusia rindu kepada mereka, berilah mereka rezeki yang berupa buah-buahan semoga mereka mau bersyukur.” (surah Ibrahim, ayat 37)

Hajar mengejar suaminya dan di sinilah ucapan Hajar yang masyhur, “Kepada siapa kamu serahkan kami, Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan ini?” Ibrahim menjawab pendek, “Benar.” Maka keluarlah suatu pernyataan dari Hajar yang melukiskan ketegaran dan tawakal jiwa beliau, ”Kalau Allah yang memerintakan demikian ini, niscaya Dia tidak akan menyia-nyiakan kami”. Itulah suatu pernyataan yang keluar dari seorang hamba yang menunjukkan kekuatan iman dan ketinggian sikap tawakalnya yang mendapat tarbiyah dari seorang hamba yang pilihan juga, Ibrahim sang Kekasih Allah.

Setelah Ibrahim suaminya tercinta berlalu dari pandangannya, Hajar meletakan buah hatinya Isma’il pada tanah pasir, kemudian beliau melihat ke sekelilingnya berharap bertemu dengan suatu kafilah yang melewati tempat itu untuk meminta pertolongan. Demikian segugus kisah kesabaran Nabi Ibrahim dalam mentaati perintah Allah.

Justeru setiap kali para ulama’ membahaskan faedah dan manfaat ibadah korban, maka tidak akan terlepas menyebutkan kesabaran yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim a.s.  Yakni agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il a.s yang membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan terlepasnya ujian sehingga Isma’il pun digantikan dengan seekor haiwan. Jika setiap mukmin mengingat  kisah ini, seharusnya mereka mencontohi sikap sabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya. (lihat: Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 5: 76.)

Firman Allah yang bermaksud,

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Surah Fusilat 41, ayat 35)

Allah tidak pernah memungiri janjinya. Sebagai balasan Nabi Ibrahim kemudian dikurniakan seorang lagi anak yang tidak kalah bandingnya dengan Ismail yakni Ishak. Firman Allah yang maksudnya,

“Dan Kami pula berikan kepadanya berita yang mengembirakan, bahawa ia akan beroleh (seorang anak): Ishak, yang akan menjadi Nabi, yang terhitung dari orang-orang yang soleh. Dan Kami limpahi berkat kepadanya dan kepada (anaknya): Ishak; dan di antara zuriat keturunan keduanya ada yang mengerjakan kebaikan, dan ada pula yang berlaku zalim dengan nyata, terhadap dirinya sendiri.” (surah As-Saffat, ayat 112-113) 

Alangkah beruntungnya orang-orang yang bersabar mentaati perintah Allah dan Rasul. Mereka bukan sahaja dijanjikan kejayaan di akhirat. Bahkan juga di dunia mereka diberikan nikmat yang banyak. Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang bersabar itu. Amin.

Mohd Riduan b Khairi

Country Height, Kota Kinabalu

Label: , , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: