Meteor dan Ilmu Perbintangan

Meteor dan Ilmu Perbintangan

Mohd Riduan b Khairi, Skuad Iman Sabah

Dengan tidak semena-mena, tiba-tiba umat manusia teruja menanti gelap. Bukan mencari lailatulqadar sebaliknya mendongak ke langit menyaksikan fenomena ‘hujan tahi bintang’ atau disebut sebagai ‘pancuran meteor’. Peristiwa ini disebut oleh ahli astronomi moden sebagai hujan meteor Perseid daripada buruj Perseus.

Meteor ialah objek batu atau logam yang terbakar membentuk gas bercahaya. Ia juga disebut sebagai tahi bintang. Manakala buruj pula ialah gugusan bintang. Meteor Perseid ialah meteor yang datang dari gugusan buruj Perseus. Yang menamakan gugusan bintang ini sebagai Perseus ialah seorang ahli geografi dan ahli astronomi Rom bernama Claudius Ptolemaeus. Di dalam buku sejarah namanya disebut sebagai Ptolemy, pelukis peta dunia pertama dan menggagaskan teori geosentrik yakni matahari mengelingi bumi.

Ilmu tentang bintang dan cakerawala turut dikaji dalam tamadun dan peradaban lain di seluruh dunia baik tamadun Cina, India bahkan termasuk di nusantara. Dari budaya Jawa lahir nama buruj seperti Kartika, Lintang Waluku dan istilah bimasakti.

Yang paling beruntung ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Ini lantaran di sisi mereka ada jawapan dan penjelasan menjelaskan rahsia alam langit. Yang memang diturunkan dari langit pada bulan yang penuh barokah yakni Al-Qur’an. Di dalamnya berisi kisah dan ayat berkaitan bulan, bintang, matahari dan lebih dari itu. Bahkan ada surah yang diberi nama An-Najm (Bintang) dan Al-Buruj (Gugusan Bintang).

Tidak ada suatupun yang Allah ciptakan melainkan semuanya itu dengan tujuan dan hikmah. Firman Allah maksudnya,

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Al-An’am: 97)

Tokoh tafsir generasi tabi’in Imam Qatadah menjelaskan,

“Allah menciptakan bintang-bintang dengan 3 (hikmah): sebagai hiasan langit, sebagai alat melontar syaitan, dan sebagai tanda penunjuk (arah). Oleh kerana itu, barangsiapa yang berpendapat dengan selain hal tersebut dalam masalah ini, sungguh dia telah salah dan menyia-nyiakan bahagiannya serta membebani diri dengan hal yang dia tiada ilmu.” (Riwayat Al-Bukhari)

Penjelasan ini rentetan dari banyak kesesatan dan kebatilan yang muncul akibat kepercayaan karut lagi tidak berasas tentang bintang dan yang berkait dengannya. Satu darinya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadith bahawa golongan jahiliyah ketika dahulu mengaitkan turunnya hujan dengan bintang-bintang tertentu yang muncul di langit.

Dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Ansar pada suatu hari, ketika duduk bersama nabi Muhammad saw, tiba-tiba mereka melihat bintang atau meteor yang bergeser, kemudian Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat Anshar yang ada di situ: “ Bagaimana keyakinan kalian pada masa Jahiliyah , ketika melihat kejadian seperti ini? Mereka menjawab : “ Kami dahulu berkeyakinan bahwa bergesernya bintang atau jatuhnya meteor merupakan tanda lahir atau meninggalnya seorang pembesar. Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw bersabda maksudnya,

“Sesungguhnya bergesernya bintang atau jatuhnya meteor, tidaklah menunjukan kematian atau kehidupan seseorang, akan tetapi jika Allah memutuskan sesuatu, maka para pembawa Arsy ( para malaikat ) pada bertasbih.” (Riwayat Muslim)

Benar Al-Qur’an dan hadith Nabi diucapkan lebih 1000 tahun yang lalu, namun hakikatnya ia sah dan valid sehingga hari ini hatta hingga akhir zaman. Jika tidak masakan penceroboh-penceroboh di Lahad Datu tempoh hari membawa Kad Kuitika yang dipetik dari kitab nujum (ramalan berdasarkan bintang) Tajul Muluk. Ia merupakan kitab yang paling popular di kalangan bomoh, tukang ramal bahkan termasuk juga pakar motivasi!

Berapa juta bahkan lebih dari jumlah itu dari kalangan umat Islam yang masih membaca ramalan bintang-bintang horoskop dalam akhbar dan majalah? Yang lebih pelik dan menakjubkan ialah tidak sedikit dari kalangan umat yang sanggup berhabis wang yang banyak untuk menghadiri majlis-majlis dan seminar-seminar meramal masa depan dengan ilmu nujum (bintang). Atas nama mengembangkan potensi diri atau motivasi, maka tiba-tiba ia menjadi halal?

Imam Qatadah menjelaskan, “Sesungguhnya orang- orang yang bodoh akan ajaran Allah, telah menyelewengkan keberadaan bintang- bintang tersebut dari fungsi yang sebenarnya, mereka menjadikannya sebagai alat perdukunan, mereka mengatakan barang siapa yang mengadakan acara pernikahan pada waktu bintang si fulan (Gemini, umpamanya), maka akan terjadi peristiwa tertentu, dan barang siapa yang melakukan perjalanan pada waktu bintang si fulan ( Leo, umpamanya ), maka akan terjadi peristiwa tertentu, dan seterusnya.., Sungguh tiada satu bintang pun yang muncul, kecuali pada waktu itu lahir anak berwarna merah dan hitam, pendek dan panjang, cantik dan jelek. Bintang- bintang tersebut, begitu juga binatang- binatang yang melata dan burung-burung yang ada , semua itu sekali- kali tidak mengetahui sesuatu yang ghaib. Kalau seandainya ada seseorang yang boleh mengetahui yang ghoib, maka Adam-lah yang paling berhak mengetahuinya, karena Allah menciptakannya langsung dengan tangan-Nya , dan memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepadanya, serta mengajarkan kepadanya segala sesuatu.”

Ilmu Nujum (Ramalan Berdasarkan Bintang)

Banyak sekali hadith Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan kebatilan ilmu nujum. Di antaranya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa mempelajari satu cabang dari ilmu nujum, ia telah mempelajari satu cabang dari ilmu sihir.” (Riwayat Abu Dawud)

Syaikh ‘Aburrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullaah mengatakan bahwa Ilmu Perbintangan ada dua macam: (1) Ilmu perbintangan yang diistilahkan dengan Ilmu Ta’tsir. (2) Ilmu perbintangan yang diistilahkan dengan Ilmu Taisiir.

Ilmu Ta’tsir adalah ilmu yang menyandarkan setiap peristiwa yang terjadi di alam raya ini kepada bintang-bintang. Ini adalah kebatilan dan salah satu bentuk mempersekutukan Allah dalam perkara ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh-Nya, atau membenarkan orang yang mengaku-ngaku tahu perkara ghaib.

Keyakinan ini juga menafikan tauhid karena mengandung pengakuan batil dan unsur bergantung kepada selain Allah, serta kerusakan akal. Sebab menempuh metode-metode yang salah dan membenarkannya termasuk perkara yang merusak akal dan agama.

Ilmu Taisiir adalah ilmu yang mempelajari matahari, bulan dan bintang-bintang untuk dijadikan dasar dalam menetapkan waktu dan arah. Ilmu perbintangan jenis ini tidaklah mengapa. Bahkan banyak darinya yang sangat berguna sehingga dianjurkan oleh syariat. Maka dalam perkara ini, wajib dibezakan antara ilmu perbintangan yang dilarang oleh Syariat, dan ilmu perbintangan yang dibolehkan, atau dianjurkan atau bahkan diwajibkan oleh syariat.

Memadai Al-Qur’an menjelaskan 3 fungsi bintang. Ia tetap kekal di langit sehingga suatu masa yang Allah tentukan. Yang benar telah turun dari langit untuk umat sekelian alam ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi untuk dipelajari dan diikuti. Keduanya itu diwariskan kepada generasi terbaik dari umat ini yakni para sahabat Nabi. Dalam sebuah hadith Nabi menyebutkan yang maksudnya,

“Bintang adalah amanah untuk langit, apabila bintang telah pergi maka datang kepada langit apa yang telah dijanjikan kepadanya, aku adalah amanah untuk para sahabatku, apabila aku telah pergi datang kepada sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka, dan sahabatku adalah amanah untuk umatku, apabila sahabat-sahabat ku telah pergi datang kepada umatku apa yang dijanjikan kepada mereka.” (Hadith Riwayat Muslim)

Di dalam hadith ini Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan bahawa bintang adalah amanah untuk langit, lalu menyebutkan dirinya dan para sahabatnya bagaikan bintang. Di dalam Al-Quran, bintang memiliki 3 fungsi; penunjuk jalan, penghias langit dan pelempar syaitan. Maka para sahabat nabi adalah penunjuk jalan bagi umat Islam, mereka adalah hiasan bagi umat Islam, dan pelempar syubhat syaitan yang merosakkan akidah dan pemikiran umat Islam.

Maka sebenar-benarnya para sahabat itulah bintang atau pedoman yang harus kita cari, kaji dan ikuti.

terbit juga di

1. Akhbar Utusan Malaysia

2. Akhbar Sinar Harian

3. Web http://www.ilmuanmalaysia.com

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: